Langsung ke konten utama

Tanah Longsor di Tangerang Selatan, 5 Rumah Hancur



Tangerang Selatan - Sebanyak 5 rumah di Kampung Koceang, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, hancur. Rumah tersebut runtuh akibat pergerakan tanah di tebing dekat permukiman warga.

"Ada 5 rumah yang ambles. Kejadiannya tadi malam sekitar pukul 20.00 WIB," kata Rusli, petugas Satpol PP yang berjaga di lokasi, Rabu (10/5/2017).

Rusli mengatakan, sejak pagi, tanah di lokasi itu sudah ambles. Ketika itu belum ada yang roboh hingga ke dalam jurang.



Karena kondisi tanah itu, penghuni rumah langsung mengamankan diri dan harta benda mereka. Bencana yang terjadi tadi malam pun tak menelan korban jiwa.

"Korban alhamdulillah tidak ada. Pas kejadian rumah sudah dikosongkan," ucapnya.

Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi, sejumlah petugas dari Satpol PP, BPBD, dan polisi terlihat berjaga. Garis polisi pun dipasang untuk membatasi akses warga mendekati lokasi ambles.

Sejumlah warga juga terlihat berkumpul di sekitar lokasi. Mereka ingin melihat langsung kondisi pasca-amblesnya jurang.
(idh/rvk)

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-3497414/tanah-longsor-di-tangerang-selatan-5-rumah-hancur

1. Apa : Tanah Longsor di Tangerang Selatan.
2. Siapa : Tidak ada korban jiwa, hanya terdapat 5 rumah warga yang hancur.
3. Kapan : 9 Mei 2017 pukul 20.00 WIB.
4. Dimana : Kampung Koceang, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan.
5. Mengapa : Rumah runtuh akibat pergerakan tebing di dekat pemukiman warga.
6. Bagaimana : Sejak pagi, tanah di lokasi sudah ambles. Tetapi ketika itu belum ada rumah yang roboh ke dalam jurang. Karena kondisi tanah tersebut, penghuni rumah langsung mengamankan diri dan membawa harta benda mereka. Dari kejadian tersebut juga tidak memakan korban jiwa.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Si Kura-Kura Dan Rusa Yang Sombong

Hiduplah seekor rusa pada zaman dahulu. Ia sangat sombong lagi pemarah. Sering ia meremehkan kemampuan hewan lain. Pada suatu hari si rusa berjalan-jalan di pinggir danau. Ia bertemu dengan kura-kura yang terlihat hanya mondar-mandir saja. "Kura-kura, apa yang sedang engkau lakukan di sini?" "Aku sedang mencari sumber penghidupan," jawab si kura-kura. Si rusa tiba-tiba marah mendengar jawaban si kura-kura. "Jangan berlagak engkau, hei kura- kura! Engkau hanya mondar-mandir saja namun berlagak tengah mencari sumber penghidupan!" Si kura-kura berusaha menjelaskan, namun si rusa tetap marah. Bahkan, si rusa mengancam akan menginjak tubuh si kura-kura. Si kura-kura yang jengkel akhirnya menantang untuk mengadu kekuatan betis kaki. Si rusa sangat marah mendengar tantangan si kura-kura untuk mengadu betis. Ia pun meminta agar si kura-kura menendang betisnya terlebih dahulu. "Tendanglah sekeras-kerasnya, semampu yang engkau bisa lakukan!" S...

Generasi Jaman Now

Budayawan Radhar Panca Dahana menilai pemuda  jaman now (sekarang) tidak mampu mengartikulasi makna hari Sumpah Pemuda. Pemuda jaman sekarang tidak memiliki acuan. Seluruh acuan nilai-nilai yang dipelihara bangsa ini hancur digantikan tatanan baru. “Anak muda jaman sekarang apakah masih mampu mengartikulasi Sumpah Pemuda? Kalau ditanya apakah memahami Sumpah Pemuda. Saya kira tidak. Anak muda sekarang  blank . Bagaimana Sumpah Pemuda muncul, anak muda jaman sekarang tidak tahu,” kata Radhar Panca Dahana dalam Diskusi dengan tema “Memaknai Sumpah Pemuda” di Press Room, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (30/10). Turut berbicara dalam diskusi ini Mustafa Kemal (Fraksi PKS). Diskusi diadakan oleh Koordinator Wartawan Parlemen bekerjasama dengan Biro Humas MPR RI. Menurut Radhar, anak muda sekarang tidak berpikir untuk menyatukan diri dalam satu tumpah darah Indonesia. Termasuk berpikir untuk bahasa persatuan, bahasa Indonesia. “Darimana datangnya cara berpikir mere...

Kenapa Harus SMAN 68 Jakarta?

SMAN 68 Jakarta. Siapa yang tidak kenal dengan nama sekolah tersebut. Dengan kualitas yang baik, SMAN 68 juga banyak menghasilkan siswa/i yang diterima melalui jalur undangan universias-universitas terbaik di Indonesia. Tapi bukan itu alasan saya bersekolah di sekolah tersebut. Tak sekalipun terlintas di fikiran saya untuk menjadi siswi SMAN 68 Jakarta. Dengan alasan lokasi sekolah yang terlampau jauh dari rumah, saya juga masih bingung harus bersekolah dimana. Saya pernah tinggal di daerah Matraman, Jakarta Timur. Kira-kira waktu itu umur saya 3 tahun. Nenek dari mama saya yang tinggal di daerah Penggalang VII dan itulah penyebab kartu keluarga saya Jakarta Timur. Saat itu, saya sudah berusaha tes di beberapa sekolah swasta. Salah satunya Krida Nusantara Bandung, dan SMA Al - Izhar Pd. Labu. Krida Nusantara, saya gak diterima disana. Karna kan Krida Nusantara itu sekolah standar militer dengan fisik yang diharuskan untuk slalu kuat, sementara buat tes lari 500 meter 3 puteran aj...